Brodan Kawak

|

13th Jun 2025

MENGAPA PROFESI PENGUKIR KAYU LANGKA DI JEPARA?

Jelajahi warisan budaya yang kaya di balik ukiran kayu Jepara yang indah. Pelajari bagaimana bentuk seni ini telah memikat dunia dengan keahliannya yang rumit dan desainnya yang tak lekang oleh waktu.

MENGAPA PROFESI PENGUKIR KAYU LANGKA DI JEPARA?

Sampai hari ini Jepara tetap disimpan dalam memori kolektif bangsa Indonesia sebagai Kota Ukir. Tak terbantahkan karena memang sepanjang sejarah kita,tukang kayu dan tukang ukir Jepara membuktikannya dengan kerja nyata. Di Jepara akan dengan mudah anda temukan workshop workshop maupun gudang gudang berkapasitas besar memproduksi mebel kayu. Berukir maupun non ukiran.

Era sembilan puluhan sampai awal duaribuan furniture indoor berbahan kayu mahoni mencapai puncaknya di Jepara. Tema tema European style seperti Louise, Queen Anne, Chippendale, Racoco, Baroque dapat kita jumpai di kampung kampung. Gudang gudang besar (eksportir) membagi pekerjaannya sampai ke perajin perajin kecil di desa desa. Atmosfer kota mebel atau kota ukir sangat terasa saat itu. Sementara itu kursi kursi ukir jati yang memiliki pasar besar dalam negri juga lagi booming.

Jaman berubah. Tuntutan efektivitas kerja dan kualitas akhirnya berimbas pada perubahan besar. Eksportir furniturememilih membangun squad produksi sendiri. Manajemen tenaga kerja (manusia) dan upgrade teknologi akhirnya menyisihkan manusia. Ditambah dengan tren baru hunian dan interior  yang serba minimalis mengakibatkan merosotnya penjualan mebel berukir. Tren minimalis,scandinavian,merajai pasar mebel dunia yang akhirnya berdampak pula pada pasar lokal/nasional.

Dari sinilah para pengukir kemudian banyak yang banting stir. Mencari pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Sebagian besar mereka pindah menjadi tukang kayu. Tapi tak sedikit pula yang pindah ke profesi yang sama sekali tidak berhubungan dengan industri mebel.

Ditambah lagi dengan  mulai digunakannya mesin pengukir:CNC atau Copy Shaper yang lebih cepat dan murah. Hari ke hari mesin ukir ini juga mengalami penyempurnaan. Kompetisi antara tenaga manusia dan mesin atau robot ini jelas berdampak bagi pengukir pengukir mediocre dan kelas kasar. Sementara pengukir pengukir kelas artis juga tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan setiap harinya. 

Hal ini kemudian menjadi PR besar yang harus didekati secara komprehensif. Pemda, asosiasi pengusaha mebel, para pengukir dan masyarakat jepara sedang berkonsolidasi untuk hal ini. Semoga segera didapat solusi yang menguntungkan semua pihak. There is a will, there is a way. Perlu mental baja untuk mengembalikan tren mebel berukir seperti beberapa dasawarsa yang lalu.

Baca Kisah Lainnya

Lihat Semua Artikel
Tips Memilih Furnitur Kayu yang Berkualitas

8 February 2025

Tren Mebel Ramah Lingkungan: Pilihan Kayu Berkelanjutan

8 February 2025

Desain Minimalis dalam Furnitur Kayu Solid

8 February 2025